Pengunjung

Sabtu, 11 April 2015

Hujan Sore

Dalam hujan, seorang perempuan selimutan angan kebingungan. Dia menumpuk numpuk perasaan yang tak dikatakan. Sebab dia wanita, baginya tak sopan jika duluan bicara raya cinta. Lalu hujan dalam tetesnya berkata “cinta mana kenal sopan, puan? Ketika diam diam bahagia mencintainya dan lupa dunia juga segala luka, itu sopan kau kira?” lalu perempuan itu menciptakan hujannya sendiri. Sebuah tangis. Lebih deras.

Dalam hujan, ada rintik renungan rindu dan kenangan. Seseorang menikmatinya sebagaimana luka merah muda. Lalu hujan dalam tetesnya berkata “ yang kau kenang kenang itu sedang makin hilang, dia takkan pulang dengan telanjang, ada baju baru dari kasihnya yang sekarang. “ lalu tiba tiba gempa di kepalanya. Seseorang itu, makin tua makin luka.

Dalam hujan , orang orang tua mencari anak anaknya. Pada obat pereda duka dan lemari lemari penyimpan pakaian kenangan angan. Lalu hujan dalam tetesnya berkata “ anak anak itu sedang bermain aku, mereka maha bahagia. Bisakah kamu bahagikan anak anakmu lebih baik dari yang dilakukan tetes tetesku?”

Dalam hujan juga lah pria ini sedang tuliskan puisi, sembari menutupi sepi yang begitu besi dengan kopi. Aku doakan kamu tidak kehujanan kelelahan. Sebab sakitmu punya cerminnya di dadaku, rasa kita maka sama. Lalu hujan dalam tetesnya berkata “ tadi aku menyentuh lembut tangannya. Dia sedang kenyang bahagia. Bersama yang lain.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar