Pengunjung

Rabu, 25 Februari 2015

Kepada Kursi Sepi

setelah sering lewat, aku akhirnya sempat menjengukmu dengan erat. maaf jika tak kubawa apa selain hampa dan tawa sebisanya.

apa kabar dirimu? masih mencintai hujan yang tak memberi apa selain karatan? kursi taman, kamu beruntung berkekasih hujan yang tak mungkin jadi rasa panas merkah. Hujan bukan manusia yang seenaknya mudah berubah.

kamu ingat gadis berkerudung manis yang sering beriring duduk denganku memutar tawa? dia sekarang punya pacar! tidak, kasihnya bukan aku. cintaku cumalah bisu malu malu, mana dapat cukup untuk dia yang cantiknya kekal hidup.

gadis itu kini baru, lagu lagu lugu tak lagi melekat di situ. dia jadi berani dengan dunia gengsi, bersahaja dan hidup sewajarnya sudahlah pergi lega dan tiada. dia gila mesra dengan kekasihnya yang punya segala.

Tapi yang berubah cuma dia, bukan cintaku padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar