Pengunjung

Kamis, 29 Januari 2015

Aku Lupa ini Musim Hujan

-Meer

Aku dan tahajudku yang kantuk kantukan mendoakan kamu bermatakan kemenangan. Tapi sesak sebab keluhmu terbunuh sembuh terbunuh sembuh, selalu begitu dan begitu selalu. Aku ingin mengajak kamu melihat pagi raya bercahaya, tapi telah datang terlalu dini; hujan, haru, dan rindu. Bahkan aku belum sempat sholat subuh ke masjid pagi ini, tanah tanah basah sisa gerimis semalam kuyup lagi.

Aku lupa, ini musim hujan. Musim yang katamu paling kesukaan. Entah apa yang membuat kamu dan aku begitu menyukai musim ini, mungkin musim hujan mengibarkan rindu rindu beterbangan bersama dingin dan ingin yang terus semakin rutin kamu batin. Bisa jadi juga, musim hujan merumahkan kenangan di benakmu yang kanak kanak itu.

Aku tak pernah tahu kenapa kita begitu menyukai musim hujan, tapi pagi ini aku telah lupa bahwa ini musim hujan. Sebab musim hujan telah beda sejak cerita kamu perlahan tiada. Sebab musim hujan kali ini kamu telah dimiliki oleh lelaki yang katamu kau cintai dan bikin mati iri.

Mungkin ada yang ingin disampaikan Tuhan lewat hujan. Dan hujan yang terlalu pagi hari ini mungkin berarti mengenangmu tak perlu sendiri, ada hujan dan puisi yang berbagi iri saban hari. Atau mungkin Tuhan ingin menyampaikan, bahwa dalam pagiku tinggal ada hujan dan kamu cuma harapan. Ah, entahlah, aku terlalu banyak menerka mengenai hujan. Tapi kini aku tak kan lupa lagi dengan musim hujan, yang sekarang bisa mengembang suka dan mengenang luka.

1 komentar: