Pengunjung

Senin, 21 April 2014

Logika Rindu

Tulisan ini berawal dari banyaknya orang orang sekitar yang mengaku dirinya sedang rindu padahal bagiku masih banyak dari mereka yang belum bisa membedakan mana rindu mana kesepian. Dan perlu ditegaskan disini bahwa tulisan ini adalah ditulis berdasarkan argumen pribadiku, jadi masalah setuju atau tidak, itu hak sepenuhnya milikmu.

                Biar ‘ku awali dengan menjelaskan beda rindu dan kesepian berdasarkan pendapatku. Bagiku, kesepian adalah kondisi ketika kita merasa butuh akan seseorang atau segolongan orang dimana pada saat itu keadaan kita memang sedang kosong, sedang sepi, penat atau bahkan sedang dalam keadaan jatuh. Dalam keadaan ini memang biasanya kita merasa rindu pada orang yang muncul dalam benak kita, orang yang biasanya selalu mengisi waktu waktukita, kita merasa merindukan saat saat dimana sedang ada dirinya, kita merasa kita membutuhkan dia, kita merasa merindukan dia, padahal menurutku itu bukanlah rindu. Itu adalah hanya kesepian.

                Lalu bagaimana dengan rindu? Rindu adalah kondisi ketika kita merasa butuh akan seseorang atau segolongan orang walaupun pada saat itu keadaan kita sedang diselimuti kebahagiaan, sedang menikmati keramaian, penuh euforia dan bahkan ketika sedang dalam posisi puncak, posisi yang seharusnya nyaman. Ketika dalam kondisi bahagia tapi kita masih merasa butuh pada orang yang biasa mengisi benak dan waktu kita, kita merasa bahwa kebahagiaan kita terasa kurang tanpa kehadirannya, itulah sebenarnya rindu menurutku. “memangnya ada yang merindu sampai seperti itu?”  ada, orang tua kita adalah yang paling bisa merasakan rindu seperti yang ‘ku maksudkan tadi, begitupun orang orang lain yang benar benar mencintai, menyayangi, dan merindukan kita.

                Mari bahas lebih dalam lagi, kalaupun pendapat ‘ku mengenai arti kerindukan yang sebenarnya tadi dianggap benar, nyatanya kebanyakan yang mengaku merasakan rindu adalah hanya ketika dia sedang merasa sepi. Orang orang biasanya baru mencari atau merasa butuh hanyalah ketika dia sedang sepi, sedang jatuh.  Jika ini adalah sifat kebanyakan orang, tidak dapat disalahkan memang.

                Dan yang dimasalahkan selanjutnya adalah tak semua rindu dinyatakan pemiliknya, padahal tak semua bisa menerjemahkan rindu. Banyak yang tak mengungkap rindunya hanya karna merasa tak pantas, merasa bahwa rindu adalah sesuatu yang salah, merasa bahwa dia tak berhak merindukan kesayangannya, padahal tak ada yang salah pada rindu, kita tak butuh alasan untuk merindu.

                Sebagaimana Kresna selalu rindu pada Bima karna Bima ngoko, ceplas ceplas, ndak mau sungkem, maunya cumam sungkem sama Gusti Allah. Kresna selalu kangen ke Arjuna karna menggemaskan, kalau punya keinginan tak pernah bicara, tiba tiba sudah pergi bertapa ..

                Maka jelaslah kita tak butuh alasan untuk merindu dan mengungkap rindu. Namun masih banyak takut untuk mengungkap rindunya dengan alasan takut tak berbalas, takut merusak hubungan, bahkan bodohnya ada yang tak mengungkap rindunya hanya karna maha besarnya gengsi! Bodoh? Ya! Maka janganlah merindu jikalau begitu. Apa ? Tidak bisa? Ya, pasti. Karna rindu bukanlah perkara bagaimana cara kita membayar, menebus, dan memuaskan rindu kita, tapi rindu adalah perkara bagaimana kita memaknai kebersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar