Pengunjung

Sabtu, 22 Maret 2014

Kita, Ketidak Jelasan yang Jelas

Jelas kita saling cinta, tapi bersatu belum saatnya. Aku kamu memang gila, memendam cinta seakan hidup lebih lama. Kita berdua saling nyanyikan tawa dan senyum-senyum sederhana sebagai nadanya, namun kita seperti tenggelam begitu saja disana dan menari selamanya.
Entah mungkin karna ku terlalu tahu kamu sepenuhnya, atau mungkin karna kamu terlalu tahu aku sepenuhnya, hingga kita seperti tak mau suarakan ini menjadi hubungan yang jelas. Tapi walaupun aku tahu baik burukmu dan kamu juga tahu hitam putihku, kita masih nyaman saja. Kita masih saling menyemangati, saling mengingatkan, mendoakan, menertawakan dan suarakan kerasnya ejekan.
Mungkin ini lebih baik dari pada kita harus menamai hubungan ini, kita lebih mesra dari mereka yang punya hubungan jelas itu. Apapun nyatanya, kita lebih bebas tuk saling hina, kita lebih bebas tuk saling tertawa dan berbahagia dengan selir-selir kita lainnya.
Kini sudah tak ku peduli mereka sebut apa kita ini, kini sudah tak kupeduli berapa kali meraka panggil kita “Aneh”, aku juga tak peduli dengan siapa dirimu tertawa dibalikku, walau pasti cemburu mataku ini. Aku juga tak peduli kapan kita hendak menamai hubungan ini, tapi yakin suatu nanti akan ada titik itu, di hari yang ditentukan Tuhan sebagai hari bersatunya kita.
Sungguh aku juga tak peduli seberapa merepotkannya aku padamu, yang aku pedulikan adalah tangismu yang kau sia-siakan untuk orang-orang lain. Suaramu yang tak didengar orang-orang lain. Aku adalah yang sangat mempedulikanmu, yang seperti ingin ku rebut segala bebanmu dan kuselesaikan sendiri. Bukannya aku ingin mencari kesempatan, tapi nyatanya memang banyak yang bisa jadi tempat bahagiamu, maka cukuplah aku menjadi tempat resah dan sedihmu saja.
Aku juga sangat mempedulikan, hari- hari dimana kamu terasa jauh dariku, hari-hari dimana tak ada sapaan manjamu padaku, lalu mandi dan makanku tak lagi diingatkan olehmu. Tapi itu bukan berati aku tak mempedulikan hari-hariku yang ada kamunya, karna setiap hariku pasti ada kamunya, walau sering kamu hanya berupa bayangan dibenakku.
Ku beritahukan padamu, bahwa piala-piala disamping Televisiku, tumpukan piagam yang tertata di almari, tepuk tangan penonton dan segala bentuk apresiasi lainnya tak lebih membahagiakanku dibanding dengan diejek olehmu.
Ku beritahukan padamu, aku adalah penggemar tertawamu. Aku adalah tempat paling sepi tanpa candamu.
Ku beritahukan padamu, aku sangat mencintaimu.

“Hahahaha. Lo serius?”

“Aku gak penah seserius ini ” :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar